Selasa, 18 April 2017

HARRY VAN HOVE

· HARRY VAN HOVE Penulis: Jose Choa Linge, Empat tahun sudah kepergiannya menghadap sang pencipta dialah Harry Van Hove atau kadang salah tulis nama menjadi Harry Van Houten, sahabatnya mengenal dia sebagai seorang aranjer, komposer , musisi dan penyanyi yang sudah malang melintang di ranah musik yang dia tekunin sejak kehadirannya di usia Dini. Asal muasal nama bau2 Belanda di namanya karena kepincut pada seorang Musisi dari negeri Kincir – Belanda bernama ‘Van Hove’, sehingga Harry menyematkan Van Hove di belakang namanya sebagai nama baru dengan harapan menjadi nama keberuntungan maka jadilah HARRY VAN HOVE. Kini Harry Van Hove telah pergi dengan tenang pada hari Senin, 28 Januari 2013 di RS Siloam- Karawaci dan baru ke esokan hari, Selasa 29 Januari 2013 jenazah di Makamkan di TPU Binong Permai -Tangerang. Almarhum meninggalkan ‘sembilan’ cucu dan ‘empat’ orang anak, bernama: ‘Antonius Mickle Chrisandre, Cosmas Geoff marco, @Eouronica Nathalia Stepanie & Greigg Marciano dan seorang Isteri ‘Jeanne’ yang dinikahinya pada 11 Mei 1970, bagi anak2nya almarhum Harry Van Hove adalah sebagai Hero baginya dan menjadi sahabat yang selalu menerima anaknya seburuk apapun keadaannya. Nama aseli sebenarnya adalah HARRY HARSONO, lahir di Solo 18 April 1946 dari orang tua bernama ‘Juli & Slameto’ dari keluarga campuran Jawa & Tiongkok dan mengisahkan kepada anaknya ‘Greigg Marciano’ kalau sekiranya bakat yang ada pada papanya ‘Harry Van Hove’ adalah warisan estafet dari opanya yang seorang Musisi Keroncong di RRI-Solo, kepada ke empat anak2nya sama menyukai musik dan saudara papah ada yang menjadi pelayanan musik di gereja ungkapnya ke penulis. Selepas menamatkan SMA di Solo, Penumping - Laweyan, Harry melangkahkan kaki mengejar matahari yang datang dari ufuk timur bahwa kota Jakarta adalah pilihannya untuk menamatkan cita2nya. Pertemuannya dengan musisi A Riyanto yang membawanya bergabung di perusahaan besar Remaco Record di Glodok adalah bunga2 impiannya yang pernah menghalau fikirannya semasa tinggal di kota Solo dan sudah mencanangkan, bila untuk sebuah cita2 harus rela merantau meninggalkan semua terkasih dan tanggalkan tapak2 kelahiran demi sebuah nama Ibu Kota yang menanti raih impian. Kesempatan itu tidak begitu lama, sebuah album LP diluncurkan ‘Tersenyum Kembali/Cipt. Is Haryanto’ dan kesempatan ke dua kembali hadir lewat persembahannya menggamit karya2nya untuk albumnya ‘Sekeping Hati Rindu Menanti, Sonet Buat Seorang Sahabat, Kenangan di Bawah Payung, Doa Seorang Ayah, Kemarau Telah Berlalu, dll dari label Yukawi pada tahun 1977. Harry yang menguasai berbagai jenis alat musik, seperti: harmonika, gitar dan not balok tak pernah tinggal diam, bakat menulisnya di untai menjadi sebuah nada hasilkan karya meneruskan langkahnya untuk tetap menguasai kota Jakarta yang sebagian orang bilang sangat kejam melebihi kekejaman seorang ibu Tiri. Keunikannya dari hasil ciptaannya dibuat di malam hari, dan bila sudah masuk studio dirumahnya di Perum Griya Karawaci Blok A.4, Suka Bakti Curug –Karawaci, maka tak satupun dari kelurga ini berani mengusiknya. Mereka tahu bahwa perpanjangan kehidupan sehari2nya berada lewat lagu2 yang dihasilkan Harry Van Hove dan lagu ciptaannya bisa di temui di sejumlah Album Penyanyi Pop Anak2 recording Yukawi, Sky, Remaco, Irama Tara dari penyanyi, sbb: Dina Mariana, Adi Bing Slamet, Iyut Bing Slamet, Ira Maya Sopha, Sandra Dewi, Puput Novel, Fitria Elvy sukaesih, Diana Papilaya, Bobby Sandhora Muchsin, Julius Sitanggang, dll. Begitu pula di album pop indonesia penyanyi dewasa tak ketinggalan namanya terukir lewat gubahannya pada penyanyi, seperti: Marini, Zwesty Wirabuana, Victor Hutabarat, Maya Angela, Okie Joe, Mungky S Pusponegoro, Mona Sitompul, Mamiek Slamet, Jane Susan, Johan Untung, Jamal Mirdad, Hetty Koes Endang, Daniel Sahuleka, Deasy Arisandi, Helly Gaos, Endang S Taurina, Nur’afni Octavia, Herlin Widhaswara, Maya Rumantir, Oscar Harris, Sandra Remer, Uci Bing Slamet, dll. Menurut pengakuan dari Greigg, jumlah lagu papa lebih dari 100 judul lagu dan yang teringat ada berapa lagu ciptaan papa hits disaat itu, seperti: ‘Pilih Aku atau Dia dan jawaban Pilih aku atau Dia ‘Aku Pilih Dirimu’ dibawakan secara solo oleh; Maya Angela II maupun duet bersama papah dan album OST dari film ‘Kamus Cinta sang Primadona’ berjudul ‘Jimmy dan Intan’ dibawakan bersama dengan Uci Bing Slamet. ‘Greigg’ kembali menambahkan, perasaannya miris dan sedih... saat saksikan ajang Lomba mencari bakat yang diadakan salah satu televisi swasta, dimana salah satu peserta dari Malaysia menyanyikan lagu ‘Panti Asuhan’ saat salah satu dewan juri menanyakan siapa pencipta dari lagu ini, spontan peserta dari negara Malaysia menjawab adalah ‘bunda... (menyebutkan nama salah satu penyanyi Diva Indonesia). Saya sangat sedih ....seharusnya sang Diva tersebut membetulkan bahwa pencipta lagu ini adalah papah dan lagu ini pernah di populerkan oleh jamal Mirdad yang kemudian sang Diva tersebut kembali merekamnya bukan sebagai penciptanya dan mungkin saja album ini merambah sampai ke negeri jiran sehingga kontestan ini mengenal dengan baik lagu ini saja. Harry Van Hove juga pernah mengecap indahnya berAkting dengan bintang2 film dan tidak merasa kikuk, baginya bintang film atau penyanyi adalah sama2 masih berkutat di situ2 juga. Bintang film terjun sebagai penyanyi atau sebaliknya penyanyi mencoba keberuntungan sebagai pemain film dan tak menjadi soal katanya saat ngobrol2 di telepon beberapa tahun lalu semasa hidup, almarhum diminta langsung oleh Anton Indracaya sebagai produser dr film Luka Diatas Luka /Sutrd. Buce Malauw -1987 dan terakhir lewat film Kamus Cinta sang Primadona/Sutrd.Abdi Wiyono- 1988. Sebagai seorang anak yang terlahir dari Harry Van Hove, pastinya sangat bangga karena kami diberi cakrawala Musik secara luas dan papah adalah teman diskusi bagi kami dan tak mungkin kami melupa saat2 indah kami bersamanya.... kenangan ketika saya duduk dibangku SMP, papah ajak saya masuk kesebuah toko kaset di bilangan Blok M.. Papah bertanya ‘kamu mau kaset apa Greigg... langsung saja saya samber ‘dua’ buah kaset kesukaanku ‘The Beatles & Andy Williams’ dan papah tidak memprotes perbedaan selera musik kami... atau saat saya berlatih chord gitar sebuah lagu, saya kesulitan dibagian tertentu...Kemudian papah memnghampiri dan ajarkan chord yang benar, teringat lagu itu adalah Hawaiian Wedding song .....lanjut Greigg mengingat2 almarhum Papahnya. Jangan dikira Harry Van Hove belum pernah alami dirundung duka, masa sulit seperti apa...... karena sejujurnya musisi di negerinya ini masih kurang dihargai secara financial padahalnya karya seni itu abadi sepanjang zaman tak tergerus waktu. Keluarga kami alami pasang surut kehidupan musisi, ketika lagu pop sedang lesu2nya ....papah mencoba keberuntungan di jalur DangDut berjudul ‘Gadis Manis di Pintu Tol’ yang dibawakan oleh papah Harry Van Hove kurang berhasil dipasaran dan diakhir2 hayat papah pernah mencipta lagu hanya dibayar beberapa ratus ribu saja, padahal lagu tersebut menjadi juara ‘satu’ dalam ajang kompetisi lagu Rohani Anak2 di Bali dan keterlaluannya mereka merekam dalam bentuk CD menjadi album kompilasi dan lagu papah sebagai lagu andalan. Saya sebagai anak dari papah Harry Van Hove, sampai hari ini bangga bila berjumpa rekan2 papah sesama musisi dan setiap saya memperkenalkan diri bahwa saya Greig Marciano salah satu putranya papah Harry Van Hove, maka teman2 papa langsung bilang ke saya ‘Papahmu adalah seorang yang baik dan dia seorang musisi senior yang apa adanya tidak mumpungi’. Tak terasa, ‘empat’ tahun kepergian papah seperti baru kemarin saja... semua masih berjalan apa adanya saat kami masih utuh, ada Papah ... ada mamah.... Tapi ketika merunut kembali saat melongok ruang dimana papah selalu habiskan waktunya seorang diri berkutat dengan inspirasinya lagu2 dan Musik, barulah berasa bahwa papah benar2 sudah pergi ke sorga.... Papaaaaah, kami anak2mu, mamah dan cucu2mu selalu berdoa untukmu, kami percaya papah sudah bahagia disana bersama Tuhan dan kami selalu merindukan papah dan menginginkan kehadiran papah sekejap menemui kami walau hanya dalam mimpi agar kami tertidur pulas dan terbangun esok hari untuk songsong kehidupan hari2 kami papaaah... Love u paaaah!!! Jakarta, 28 Januari 2017

PRIJOLIN Enterprise

PriJoLin ENTERPRISE.. Penulis: Jose Choa Linge, PriJoLin, adalah Tiga nama dari Pri- Prilly Priscilla, sementara Jo- Jose Choa Linge II & Lin- Linda Dewiyanti telah hadir semarakkan Event Organizer yang mulai marak di Negeri ini. Mereka mempunyai kekuatan 'Nyali' yang tidak bisa diremehkan dan bersatu dengan Visi dan Misi untuk mengangkat kembali para Penyanyi Senior berTahta di kancah musik Indonesia untuk di hargai kehadirannya. Mereka adalah Tiga pribadi yang masing2 sangat bertolak belakang ini, saling menutupi kekurangannya dengan kelebihan masing-masing tanpa bersinggungan satu sama lain tentunya sudah menjadi bagian dari apa yang dinamakan seHati dan seNyawa. Semoga kehadiran 'PriJoLin Enterprise', akan selalu memberi suguhan persembahan dan kejutan2 dari mereka yang tentunya untuk membawa Visi dan Misi kepada sang Legenda Musik Tanah Air. Bila ditanyak mengapa?... PriJoLin.... sangat2 sedih melihat para Promotor Indonesia hanya berKiblat mengundang para Musisi2 Luar dari pada menengok kanan kirinya masih banyak Artis Musisi dan Penyanyi Negerinya yang Potensial layak dapatkan hal yang sama. So kenapa kita tidak bersikap adil pada mereka?. Gebrakan pertamanya, Sudah menyuguhkan Konsert Tunggal dari penyanyi yang kehidupan sehari2nya sangat sederhana dan Religius ini 'DIAN PIESESHA' bertajuk 'KERINDUAN' yang pernah digelar di Jakarta pada Tgl.15 Maret 2013 dan melibatkan Bintang Tamu; Wahyu OS, Eddy Silitonga, The2IN, dll bertempat 'Kartika Chandra Hotel-Ballroom Kirana, Jalan.Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Kemudian PriJoLin diGandeng KLMI (Komunitas Legendaris Musik Indonesia) pimpinan 'Chai Men Kho' menggelar Konser Amal dengan Thema 'Legend to Legend' dalam 'Malam Sejuta Kasih', keIstimewaan dari konser ini adalah melibatkan Artis Legendaris Bob Tutupoly, Ernie Djohan, Titiek Sandhora, Mus Mulyadi, Muchsin Alatas, Dian Piesesha, Arie Koesmiran, Betharia Sonata, Obbie Messakh, Maya Angela, Johan Untung, dan KOES PLUS. PriJoLin Enterprise masih eksis walau aktifitasnya sering terlihat hanya berDua atau perOrangan baik Prilly Priscilla maupun Jose Choa Linge masih selalu mengusung Event Organisasi yang dibentuknya bila berkolaborasi tetap membawa bendera PriJoLin, dan tercatat berapa kali menggarap event yang bekerja sama dengan beberapa instansi terkait menggelar Fun Bike, Bazaar Umum maupun Bazaar Artis yang selalu dinanti para pencintanya dan menjadi daya tarik tersendiri dalam menggaet pengunjung. Sejogyanya PriJoLin tak mungkin diragukan karena nama-nama besar didalamnya, seperti diketahui Prilly Priscilla adalah salah satu pagar ayu dari JK Records, Foto Model dan Produser begitupula nama Jose Choa Linge adalah bukan orang baru didunia seni karena sejak tahun 1980'an sempat tercatat sebagai pemain Sinetron, Teater, Model, Peragawan, Penulis, Pemerhati Musik/Film dan Pembawa Acara. Kehebatan Dua nama dari Tiga personilnya menjadi jaminan sukses sebuah acara kerena kekuatan, Starategi, Briliant dan penggemar yang mereka miliki, hal terpuji dari PriJoLin adalah mereka selalu memprioritaskan mengangkat kembali martabat Penyanyi Indonesia yang media sudah lupakan dan memberikan tempat layak yang semestinya mereka terima untuk pengabdiannya dilibatkan dalam kegiatan positif. Semoga PriJoLin akan menjadi sebuah perjalanan panjang untuk diceriterakan perjalanannya meraih sukses keDepannya dengan tetap mengutamakan visi dan Misinya menggelar Pertunjukan, mengApresiasi para Seniman Musik Senior Indonesia dan tidak menutup kemungkinan akan merambah keseluruh Wilayah Nusantara bahkan tidak segan2 untuk 'Go International' bila Tuhan Berkenaan, Insya Allah Do'a & dukungan para sahabat2 kami nantikan,Amin.

ERVINNA







ERVINNA
,  Penyanyi dari kota Buaya reputasi Internasional.
Penulis: Jose Choa Linge,


ERVIN adalah nama kecilnya,  setelah  terjun di dunia nyanyi  oleh alm.Kol. Indiarto ditambahkan  dua huruf NA dbelakang nama ErvinNA jadilah nama cantik ERVINNA si Penyuka olah raga Sport,
Lari Pagi, Yoga, Renang dan Gym ini.  Penyanyi cantik dan berwajah  oval ini lahir di kota Surabaya 4 Mei 1956 adalah sebagai anak bungsu dari ‘tujuh’ bersaudara, sejak berumur ‘lima’ tahun  sudah  menyenangi menyanyi dan baru berusia ‘dua belas’ sudah berani tampil di sekolah.  Penyanyi  yang  awalnya dikira penyanyi dari Philipina ini tidak tanggung-tanggung  berlatih secara fisik dengan sport secara rutin dan latihan vocal secara intensif hanya kepada  kakaknya  bernama Paulus Purnomo di rumah.

Kehadirannya di kota Surabaya saat itu masih belum dianggap dan beberapa kali mengikuti Festival Pop Singer tak pernah mendapat tempat terhormat di catatan dewan juri, hal itu membuat Ervinna selalu belajar dan terus belajar dalam  menggapai ketingalan2nya. Sehingga pada akhirnya Ervinna mendapat kesempatan rekaman di Singapore dan melakukan serangkaian show  baik di Singapore, Bangkok dan  Malaysia.  Suaranya direkam oleh Studio White Cloud Record & Co lewat lagu-lagu Barat kuno yang pernah populer di  Dunia, perusahaan recording ini hanya mencentak terbatas dan kesannya asal jadi lantaran group pengiring ‘Charlie & His Boys saat itu retak dan bongkar pasang pemain sehingga rekaman ini kurang maksimal penggarapannya.

Ervinna kembali keTanah Air pada tahun 1975 dan langsung mendapat tawaran merekam sekaligus beberapa album2  Populer, Melayu, Keroncong, adalah studio Golden Hand –Surabaya mempercayakannya merekam lagu2 Barat  di iringi oleh The Saz. Tidak tanggung2 album  LP-Long Play  lagu2 Old Hit & Top Hit di edarkan ke negara Jepang, Vietnam, Taipeh, Hongkong, Philipina,  Muang Thai, Malaysia & Eropa. Yang paling membekas diingatannya adalah saat keIkut sertaannya pada rombongan missi kesenian NTT  tampil diacara Ulang Tahun Kemerdekaan  Malaysia dan  di Timor-timor.  Ervinna mengisahkan pengalaman serangkaian tour shownya diberbagai negara, ada enak dan tidak enaknya... “enaknya adalah bila pertunjukan saya sukses gemilang dan jujur saja sebagai penyanyi Indonesia banggalah bisa menarik simpatik dari penonton, gak enaknya bila saya tiba2 terkena sakit tenggorokan karena pengaruh cuaca dan iklim...bila sudah demikian biasanya saya istirahat dan kedokter untuk mengembalikan suara saya yang semula serak  dan  juga kerinduan saya pada tanah air”.

THEODORA MONICA ERVIN  
adalah juga salah satu penyanyi serba bisa, penyanyi ini sdh muncul
dimasa tahun 70’an dan merekam suaranya di perusahaan Indonesia, Golden Hand,  Indra Record - Surabaya sebagai penyanyi  Populer, Djawa, Melayu maupun Kroncong  baik sebagai Solois maupun berduet bersama Mus Mulyadi.  Sejumlah albumnya direkam juga oleh perusahaan Padang Surya Mas, Remaco, Irama Tara, dll dan kemudian Ervinna memiliki reputasi Internasional dan acapkali kita temui melanglang buana kebeberapa Negara Asia,Eropa,  Amerika Selatan (Suriname) dan merekam semua lagu2nya baik berbahasa Tagalok,Mandarin, Jerman, Inggris, Taki – Taki,  Jepang  dan lain sebagainya.  Ervinna menambahkan kisahnya bahwa saat diawal karirnya dia harus memutuskan kebimbangannya memilih satu dari dua pilihan, saat itu tahun 1973 Ervinna masih duduk di bangku kelas 3 SMP – Sekolah Menengah Pertama Santa Agnes –Surabaya, terpaksa ditinggalkannya dan memilih karier barnyanyi daripada pendidikan formalnya.

Bila kita amati dipagelaran shownya, Ervinna seakan menjadi magnit antara gaya yang dia padu dengan ritme musik menyentak sehingga menjadi sihir bagi penonton merasa tidak merugi saksikan penampilan livenya. Bukan itu saja, pengamat musik dan media selalu berkomentar positif tentangnya karena kepemilikan tunggal  soal penghayatan teknik bernyanyi yang baik dan penguasaan panggung dengan aksi tari balet, disco, jazz  dan pada akhirnya tinggalkan decak kagum para penonton aksi panggungnya.  Disaat  dikomfirmasi rahasia kesuksesannya adalah, sbb;  “mempersiapkan lagu yang akan dibawakan atau lagu request dari panitia, terpenting menghapal,  kemudian mencoba menghayati  makna yang tersirat dari lagu tersebut... baru setelah itu mencoba  memasuki kreographinya, sebaiknya diselaraskan dengan  akting, gaya yang sesuai  isi lagu tersebut” dan hasilnya sangat menakjubkan seperti yang kita lihat kehadirannya belum lama ini di acara ‘Halalbihalal & Charity Eddy Silitonga oleh STARINA. – Solidaritas Artis Indonesia, Senin,25 Juli 2016 –Safari Cafe, Jak Sel d‘Delapan Puluhan’, pada hari Minggu, 18 September 2016 -  Auditorium TVRI’.

Memasuki e
ra 80an
saat kepulangannya di tanah air disambut dengan suka cita oleh A Riyanto dan langsung dibuatkan sejumlah lagu Disco bersentuhan Reggae 'Beta Kawan Setia dan berturut2 hits 'Jangan Parkir Disitu, Lari Pagi, Hallo Apa kabar,Manja Semanis Madu,Udang Di Balik Batu', dll juga sejumlah pencipta lainnya Arie Wibowo 'Lagu Manis, Angin Sorga', Ithink 'Aku Sudah Dewasa', Dadang S Manaf 'Secangkir Kopi', Elfas Seciora/Ingrid Wijanarko 'Hatiku Bahagia', Chilung 'Jakarta Metropolitan'.  Pencapaian sukses yang sudah diperolehnya hasilkan penghargaan berupa:  Piringan Hitam (PH) Emas, yakni Golden Record dari Singapore maupun dari Indonesia, sebagai penyanyi favourite versi Puspem Hamkam, Piringan Hitam (PH) Silver dari Singapore Record Association, Award BASF dari Indonesia dan penerima Award The Ten Best Singer di Asia, dll.

Penyanyi yang  dijuluki “The Angel of Indonesia”  ini
masih berdomisili di kota Surabaya dan kabarnya aktif menjadi penginjil (kegiatan Gereja) dan kurangi kegiatan sekuler kecuali album Rohani, walau Ervinna bukan penyanyi festival namun dia memiliki reputasi International tanpa harus menjadi warga negara setempat.  Kelebihan yang dimiliknya adalah penguasan bahasa asing yang dia kuasai, sehingga tak menyulitkan untuk komunikasi jika dia berada  di negara orang dalam serangkaian lawatan shownya, Ervina selalu mengusahakan menyertakan lagu berbahasa negera yang dikunjunginya tersebut sebagai sapaan salam mesra kepada pencintanya.  Ervinna pernah berceritera tentang kekagumannya pada sosok penyanyi Legenda Taiwan ini  ‘Teresa Teng’ dan rasa kekagumannya itu dia lukiskan dalam sebuah persembahan  merekam kembali lagu2nya, yang akrab dikuping seperti ‘Ni Wen Wo Ai Ni You, Goodbye My Love, ’...  Ervinna kembali tambahkan bahwa  seorang pengusaha dan seniman musik  bernama‘James Chu’  yang kini tinggal  di Hongkong  berkeinginan wujudkan keinginannya bikin album khusus mengenang sang legenda Pop Teresa Teng dan menggandeng Ervinna,  album ini bertajuk ‘Sing Teresa Teng 60 thn Anniversary’ di tujukan  kepada para penggemar Ervinna sebagai kenangan spesial.... ujarnya di awal tahun 2014 lalu.

Kerinduannya merilis album rohani Mandarin adalah wujud syukur atas  berkat  dan kasih Tuhan dalam penyertaanNYA dikehidupan seni maupun keluarga  kecilnya bersama  suami ‘Robert Soesanto’  dan kedua anaknya.  Ervinna baru saja hadirkan album  rohani dalam bahasa Mandarin ‘His Love’, walaupun  album ini mengalami proses  penantian yang cukup lama soal perizinan  dari publisher Taiwan maupun Amerika dan ‘Puji Tuhan’  album yang dikerjakan oleh Maranatha Record sudah dapat ditemui di galeri  ‘Pondok Pujian’  di JaBoDeTabek.  Tahun 2015 , Ervinna kembali melempar album untuk kalangan sendiri yang bertajuk  ‘500 tahun Kelahiran Santa Teresa dari Yesus’ berisi lagu2 ‘Nada Te Turbe, Maria, Mirame,  Ave Maria (Ora Pro Nobis), Acogeme, Oh madre del Carmelo, Inviolata,  FlosCarmeli & Flor DelCaemelo, dll.  Diakuinya  bahwa keberadaan album ‘NADA TE TURBE’ – ‘Janganlah Gelisah, Allah Saja Cukup’  karena  dia melihat banyak orang tenggelam dalam kegelisahan dan kekuatiran, ‘saya sangat berkesan dengan kehidupan, perjuangan dan spritualitas dari Santa Teresa... saya dimampukan untuk menyanyikan album pujian ini”.  Aktifitas disela  kesibukan  Ervinna adalah  aktif dikegiatan rohani dan tercatat di kepengurusan  komunitas pertumbuhan iman perempuan bernama ‘Bunda Kudus’ di kota kelahirannya berdiri sejak tahun 1994 silam,  keberadannya dikomunitas ini  dipercaya sebagai ketua dan  eksis menggalang dana untuk pembangunan rumah ibadah (Gereja), bakti sosial di rumah2 Anak Yatim Piatu, Rumah Jompo maupun korban Bencana Alam tanpa melihat  Sukunya apa dan Agamanya apa.


Bila dihitung prestasinya,  sepertinya mampu menyandingkan namanya setingkat penyanyi Hetty Koes Endang sebagai sebutan Penyanyi Serba Bisa karena Ervinna telah menguasai dan lama hidup sebagai seniman secara International dan rata2 disetiap negara disinggahinya Ervinna merekam lagunya dengan berbahasa setempat, albumnya bila dihitung dari sejak menapak dan hingga saat ini bisa mencapai lebih kurang dari 200-250 keping  Compect Disc (CD), Laser Disc (LD)  baik dalam bentuk Pita Kaset maupun Piringan Hitam (PH),  Long Play (LP),  sejumlah lagu berbagai ragam dari album Pop Indonesia,  Mandarin, Jerman, Melayu, Reggae, Disco, Dangdut, Inggris, Batak, Natal,  Djawa, Kroncong, dll  dan nama Ervinna pernah tercatat di credit title film Indonesia sebagai pemeran utama lewat film ‘ Hujan Duit-tahun 1977 bersama Latif M, Doris Callabout’ dan sempat berseloroh ‘kapok main film...capeknya nggak ketulungan’.

 Diakhir tulisan ini, segala pujian penulis ada padanya dibanyak hal soal keramahan dan kemurahan senyumannya, diapun tak segan2 memberi kabar bila sedang ada pelayanan di Jakarta dan janjian disuatu tempat walau sekedar dinner atau ngobrol-ngobrol  sambil berbagi kisah ceritera.   Tentunya pertemuan kami bersama  Ervinna tak kami  sia2kan begitu saja dan selalu kami mengakhirinya dengan foto selfi berdua sebagai  layaknya sahabat yang merindu  seseorang  hadir  yang selalu menenangkan  dalam segala situasi keterpurukan ditinggal  mati sang   belahan jiwa  ‘Robert Soesanto’ belum lama ini,   dan sahabat mengingatkan saatnya untuk bangkit  walau seberat apapun itu separuh  Jiwa kita pergi...Sahabat,  ibarat sebatang lilin ...menerangi kegelapan.   SEKIAN.

disempurnakan pada, Sabtu, 15 April 2017
di Curug – Jakarta Timur.



Sabtu, 20 Agustus 2016

Catatan Harian Seorang DEBBY CHYNTIA DEWI




Catatan Harian seorang Debbie Cynthia Dewi....
Senin, 15 Agustus 2016.
Penulis: Jose Choa Linge,

Debby Chyntia Dewi, kelahiran Jakarta 04 Agustus 1852.
Awalinya tahun 1972 saat sutradara Hasmanan mantan Pemain Orkes GUMARANG, terpikat dengan kecantikan Putri dari Aktor Gaek 'S BONO'.. Tidak tanggung2 langsung didaulat sebagai pemeran utama mendampingi Aktor Tampan seAsia yang sangat populer namanya di Indonesia 'Teng Kuang Yung', film kerjasama dengan negara Hongkong diberi judul TIADA JALAN LAIN.
Film yang membuat namanya meroket dan media menghembuskan namanya sebagai Aktris masa depan bukan karena kecantikannya saja, namun keberaniannya berAdegan K*SS*I*G bersama pemain Asing. Saat di komfirmasi langsung dengannya, ada sedikit merasa 'eneg' saat harus beradegan R*an*j*ng dengan lawan mainnya Tampan wajahnya namun di sekujur tubuhnya ada bercak P*NU..

Film ini sempat dicekal di Negerinya sendiri, alasannya karena sepanjang film tersebut hanya menebar adegan v*lg*r, Action dan kemewahan, tapi tidak demikian dinegeri Hongkong film ini sempat diputar dan digemari bahkan saksi mata Bobby Sandy sempat berujar ke Debby Chyntia Dewi.. saat saksikan film Hongkong eeeh gak nyangka pemainnya Debby... gelak tawanya.
Walaupun film ini dikatakan sebagai film yang bisa merusak moral generasi Anak2 Muda dimasa itu dan minta ditarik dari peredaran, tapi tidak menyurutkan langkah seorang Debby Chyntia Dewi untuk mati berkarya. Madia dimasa itu tak henti2nya membicarakan dalam tempo yang panjang seakan berita artis lain tertutup beritanya oleh seorang pendatang baru yang polos dan terbayangkan saat benar2 diL*m*t bibirnya oleh Teng Kuan Yung membuat memerah wajahnya karena malu caMpur marah dan tidak bisa berbuat apa2 karena ketidak tahuan adn lugunya bahwa ceriteranya ada adegan manuk2an.

Film keDuanya yang digarap oleh Nya Abbas Akup, membuka kembali jalan baginya...film Catatan Harian Seorang Gadis, kembali masih dalam porsi meyerempet 'sekwilda' namun digarap secara indah oleh Nya Abbas. Sayangnya film yang berkolaborasi dengan 'Aedy Moward, Wahab Abdi dan Rahayu Effendy', kurang booming karena film Tiada Jalan Lain masih belum pudar dibicarakan.
Ada kisah dibalik kekuatan cetitera tentang seorang Debby Chyntia Dewi yang langsung diceriterakan kepada penulis bahwa foto2 Sy..rnya dari iklan sepeda motor dimana hanya memakai bikini mengundang pria2 tak bisa menahan Iman. Bukan saja foto iklan sepeda motor yang berbikini, foto2 s*xy nya menjadi bulan2an para pria2 yang selalu berfantasi untuk memajang gambarnya di kamar mandi sambil menatap dan ber 'hallo2 Bandung' membuat kami semua didalam mobil tertawa terkekeh-kekeh.

Saat penulis menanyakan bagamana rasanya seorang Anak bermain di film dimana sang Ayah sebagai lawan mainnya, Debby Chyntia berceritera bahwa ibunya sangat menentang dan melarang untuk lakukan. Menurut sang ibu bagaimana rasanya sang anak harus beradu akting mesra sebagai gadis simpanan oleh sang pemeran ayah kandungnya,...? Bagi Debby Chyntia tak menjadi soal dan berusaha profesional toh tidak merasa di sepesialkan oleh sang ayah yang menyutradarai dan berperan sebagai om senang sehingga sang ibu tidak bisa berbuat apa2 dengan kekerasan hati si anak dimana sang ibu yang masa itu sudah berpisah (bercerai) dari sang ayah S Bono.
Lebih dari 50 judul film yang dibintanginya, dengan berbagai karakter sebagai: perempuan baik2, cewek jagoan, ibu tiri jahat dan banyak lagi peran2 yang membuatnya tertangtang untuk dilakoninya. Masih ingat di film Aula Cinta sebagai Ibu Guru yang dicintai muridnya...? atau film serie dari Cewek Jagoan sang penumpas durjana atau si ibu Tiri jahat yang cerewet dan judes dalam film Anak2 Tak BerIbu, semua dilakoninya tanpa ada beban dan baginya mencoba berakting sebaik mungkin adalah memberi persembahannya untuk Film Indonesia tanpa ada target meraih 'Citra' yang terpenting segenap jiwa raganya untuk Film Indonesia dan tidak ingin menjauh dari dunia akting katanya.

Dalam perjalanan mobil yang kami tumpangi, duduk pak Sandec Sahetapy dan Dharty Mlg II sang sopir teladan jalur berlawananpun di libasnya, hehehehehehehe...... penulis dan nara sumber 'Debby Chyntia Dewi' bercengkrama sesekali tanya jawab dan penulis hanya merekam di kepala tentang tuturan pengalaman para pencintanya di Negeri Tetangga dimana saat itu sedang ada lawatan ke Penang bersama Christine Hakim dan artis lainya. Beberapa penggemar meminta berfoto dan berucap 'You... ade tak main di Film Ilmu Teluh, boleh buat picture.... Debby Chyntia awalnya kaget tdk menyangka betapa kekuatan film ini dapat menghpnotis penonton Negeri tetangga dan terlebih dia merasa belum apa2 dengan sejawatnya Christine Hakim tapi penggemar malah menyerbunya untuk sekedar salaman atau berfoto.

Film Penangkal Ilmu Teluh/Sutrd, SA Karim, dimana peran Debby Chyntia Dewi sangat menonjol sebagai isteri muda pemakai susuk agar tetap cantik dan awet muda. Seorang Debby Chyntia Dewi sangat memuji kehebatan akting seniornya 'Sofia WD' sebagai dukun yang kekuatan aktingnya sungguh berada diatas rata2. Curhatnya diakhir perjalanan kami sebelum berpisah, rasanya ingin memiliki sebagian copy film2 yang pernah dibintanginya dan disebutnya selain Tiada Jalan Lain, Catatan Seirang Harian Seorang Gadis, Si Genit Poppy dan ada lagi film dimana yang diaperankan sebagai wanita desa Buta diperkosa, sayangnya penulis tidak bisa mengingat judul film dimana dia berpasangan dengan Aktor tampan Dokter Gigi, yang diingatnya hidung Fadli dibuat besar seperti monyet dan peran dia sebagai gadis buta dapat melihat fiakhir ceritera...

Sampai jumpa pada Catatan Harian seorang Bintang lainnya, yang tanpa diasadari masuk perangkap dalam scenario untuk berbagi kisah pada sahabat2 pencintanya....

In Memoriam CHARLIE SAHETAPY




In Memoriam 'CHARLIE SAHETAPY,
(23 November 1952 - 30 November 2004)..
Ayahku adalah seorang MUSUH ..Tapi dia adalah IDOLAKU,
Penulis:  Jose Choa Linge,

Aku Sandec Sahetapy, bila ingat saat-saat kepergian papa, betapa tidak adilnya diri ini menyimpan dendam pada Ayah yang telah memberikan Nafas 'cinta' yang tak pernah ujud nyata... dimana letak salahnya, sosoknya yang keras telah berikan 'cambuk' agar aku kuat dan harus berdiri diatas kaki sendiri, disaat susah yang bisa bantu adalah dirimu sendiri,..begitulah akhir kisah yang pernah dia ucapkan berkali-kali yang kini sudah kupahami dan kujaga.

Aaaakh.... Sandec Sahetapy .... Betapa bodohnya dirimu harus membenci Ayah yang begitu perhatian dengan cara-cara yang tidak kau pahaminya, seorang Ayah punya cara tersendiri untuk curahkan kasih sayang kepada anaknya tanpa harus menunjukan ujudnya. Disinalah kehidupan yang dia berikan dan dibentangkan didepan matamu agar terkuak bahwa hidup adalah perjalanan panjang dan harus membelahnya mencari dua pernyataan 'Salah dan Benar' dan bila sudah dapatkan maknanya maka hidupmu yang menentukan pilihan itu.

daaaan... Akhirnya tak pernah setitikpun kupaham makna2 dan isyarat kata-katanya yang kutangkap sorot matanya bagai burung Elang yang siap menerkam 'mangsa', oooh ...bukan... bukan... sorot mata itu seperti bening 'kristal' berkilau sehingga kutak mampu untuk menatapnya dan kupalingkan muka untuk hindarinya... dan terdengar kembali, Naaaaaaaak.....kelak nanti engkau fahaminya.
Pribadiku kuat dan bukti itu 'nyata' ..aku telah berdiri diatas kakiku sendiri tanpa ada sosok 'Ayah' yang memberi, aku telah berdiri diatas kakiku sendiri tanpa pertolongan 'Ayah' disisiku dan ..dan..dan aku telah berdiri diatas kakiku sendiri tanpa dirimu yang bernama'Ayah' yang selalu ada menemani, tapi aku berdiri diatas kakiku sendiri karena aku 'SANDEK' si Pemuda Pekerja itu papaaaaaa.

Aku Sandec sang pekerja keras.. tetap kokoh tanpa luluh dengan sosok Ayah atau papa yang sering kupanggilnya, dia terbaring lemah di Rumah Sakit sedang menanti skratul mautnya...Aku mencibir dan egoku sebagai si Sandec si Anak Menteng yang kerjanya begajul harus luruuuuh...oooh tidak, tentu tidak karena aku kuat di jalan dan kuharamkan Air Mataku tumpah. Tergambar kembali saat masih remajaku pernah kupinjam Mobilnya untuk sekedar bermalam mingguan sesama teman, mobil sudah tercuci bersih dan kunci kontak sedang ditangan.. Ayahku bilang,., 'bisa isi bensin nggak..kalau nabrak bagaimana..ada rebewes (SIM) gak ada ini-itu, kalau begini -begitu.... jangan pernah bangga punya harta orang tua'..

Aku Sandec... di koridor Rumah Sakit Cikini, papa sebentar- sebentar menarik nafas seakan hendak sampaikan kalimat perpisahan, dan tetap sedikitpun tak kuhirau, Oma yang merawatku sejak usiaku 9 bulan tanpa sosok bernama ayah menghampiri meminta untuk mendekat ke papapun akhirnya juga angkat bahu ..karena oma tahu bahwa diamku tanda tak setuju.. Akhirnya kalimatku terucap juga "Itu Jagoan ...mati juga".

Teman-teman papa para Insan Seni, banyak sampaikan ucapkan belasungkawa .. om El Manik menghampiri 'Deeek....Ello gak Mau liat bapakmu', jangankan mau lihat rasanya muak lihat bila kembali kemasa belakang, tapi ada dorongan hati 'nuraniku' berbisik... Deeek, kamu harus lihat terakhir kali papamu, sebelum penyesalan datang terakhir.. Entah, tiba-tiba... kaki ini gontai melangkah dimana papa Charlie Sahetapy seorang aktor yang diakui di Film Indonesia dengan catatan prestasi Nominasi FFI dan Piala Vidia digenggaman sudah terbujur kaku dimandikan daaaaaaaan... Tuhaaaaan, teriakku... selama ini ada yang salah padaku, mataku tertuju pada tubuhnya ada Tatto Burung dan tergambar nyata tulisan berlafal SANDEK... Aku bergidik dan memrintahkan om El Manik dan yang lain untuk keluar dari ruangan ini biar aku Sandec ingin bersama Papa Charlie... Tangiskupun memecah dan meraung bagai singa yang kehilangan Induknya, permintaan Maaf kugaungkan 'kenapa papa tidak bilang kalo sayang sama aku.. kenapa papa sembunyikan semua rasa sayang papa pada saya dengan seperti ini, maaafkan aku papaaaaaaaa telah sia2kanmu'..

Kini Papa sudah tidur dengan mimpinya yang panjang dan kutahu papa tak pernah terbangun lagi, namun kutahu papa sudah tersenyum melihatku sudah temukan jalan keBenaran itu.. Papa sudah kuantarkan ke peristirahannya di TPU sawangan diantara makam-makam para Muslim yang sudah wafat terdapat Nisan Salib satu2nya tempat papa tertidur, aku bangga dan bersuka cita berdiri diantara saudara MUSLIMku kami tetap berSaudara tanpa ada perbedaan.

CHARLIE SAHETAPY, adalah seorang Aktor Film dan Teater.. Semasa hidupnya sudah berAkting di sejumlah film,antara lain: Terminal Cinta, Perawan Desa, Pulau Cinta,Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, Selamat Tinggal Masa Remaja, Serangan Fajar, Penghianatan G 30 S PKI, Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi, Matahari- matahari, Ketika Cinta Harus Memilih', dll

Prestasi:
(1). Nominasi Pemeran Pembantu Pria FFI- 1980 - dalam 'Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa,
(2). Pemeran Pembantu Pria FSI -1995 dalam 'Nyai Dasima.

Minggu, 26 Juni 2016

KENDEDES








TITIEK NUR julukan si SETAN GENDANG dari Group KENDEDES...
Penulis: Jose Choa Linge,

Sikecil ‘Titik Nurniaty’ atau kelak hari kita kenal sebagai TITIK NUR sudah unjuk kebolehan bernyanyi diiringi band dimasa usianya masih BaLiTa, terbayangkan usia 5 tahun sudah melatunkan lagu Mencari/Cipt.Jasir Sjam yang dipopulerkan dimasa itu oleh ‘Titiek Sandhora’... Tanpa sungkan atau merasa takut  Titik Nur kecil  naik panggung dan sudah beraksi layaknya bagai artis besar dan meluncurlah lagu ‘Sayang..dimana kau berada,  lama sudah kumencari...  Kini hatiku gelisah padamu, Apa salahku dan kau tinggalkan....

Ayahnya ‘Emok Sahari’ yang khatam betul suara anaknya terdengar sayup2 dari speaker menembus dicelah pintu rumahnya membuatnya gelisah dan mengajak isterinya ‘Siti Hafsah’ untuk melihat panggung seni hajatan tidak jauh dari rumahnya,  siapa sebenarnya suara anak kecil yang bernyanyi  itu kata katinya untuk melawan rasa penasarannya... rasa-rasanya seperti suara Titik Nur dan ingin memastikan, rasa seorang bapak lebih pekah dari rasa seorang ibu yang mencoba menahan ‘mana mungkin Titik Nur pah dia kan masih kecil dan pemalu” dan ternyata si kecil Titik Nur tak menyadari kedua orang tuanya sudah bergabung  dibarisan penonton, dengan cueknya Titik Nur tetap menghabiskan bait demi bait lagu Mencari  ‘Sayang oh sayang kau kembali,  Jangan  kau biarkan ku sendiri, Cintaku ini tetap suci abadi, kini kasihmu  menanti... Aku harapkan mengerti diriku, Kini nasibku menanti..  Bergemuruhlah sorak sarai dan tepuk tangan penonton serasa berada di arena pertunjukan konser, kedua orang tuanya menyadari bahwa bakat anaknya dimulai dari ‘tempat ini’ walau di kemudian hari orang tua memberikan reaksi penolakan yang ingin Titik Nur hanya berurusan dengan sekolah saja.

Pamekasan- Madura di Jawa Timur, 18 Agustus 1958 adalah dimana ‘Titik Nurniaty atau Titik Nur’ terlahir di dunia dan hanya merasakan sedikit saja memory keIndahan kota kelahirannya dimasa kecilnya bermain dan berkejaran di pantai yang indah bersama teman2nya. Titik Nur harus hijrah dan berpindah tugas dari satu kota ke kota lainnya  mengikuti Ayahnya  yang seorang ABRI berdinas di kota Gorontalo – Sulawesi Tengah.  Siapa nyana si cabe rawit Titik Nur, kembali berprestasi 3X berturut-turut menjuarai ajang Festival Lomba Nyanyi pada tahun 1967 – 1968 dan 1969,  bahkan diusianya yang masih anak-anak 8 Tahun mencoba ikut Festival Kejuaraan Lomba Keroncong tingkat Dewasa dan lagi-lagi Titik Nur kecil meraih juara ke III.

Tahun 1970... Keluarga besar Titik Nur berpindah tugas di kota Manado-Sulawesi Utara, dari selama keberadaan Titik Nur di kota ini tak membuatnya mati langka  atau melempem masa berkeseniannya. Bahkan keradaannya dikota ini  masa selama  4 tahun di kota Manado,  untuk menyebut nama Titik Nur saja sudah dikenal seperti layaknya menyebut  seorang Super Star. Tidak berlebihan memang, sejak pertemuannya dengan ‘B Efendy’ seorang anggota ABRI berpangkat Kolonel yang kemudian membimbingnya  dan mengarahkan untuk  bergabung di Group yang dipimpinnya seperti: ‘The Logist dan The Ins’.  Selama menimbah ilmu di dua Grop ini, Titik Nur kemudian sudah mengenal penyanyi ‘Ermy Kullit & Anggoman CS kemudian hari menjadi ‘Anggoman Bersaudara’ sesama anggota sebagai biduan dari group ini dan seringkali show di kota Manado dan sekitarnya.

Tahun 1974... Atas saran Bapak B Efendy dan tentunya atas restu kedua orang Tuanya ‘Emok Sahari & Siti Hafsah’, berangkatlah ke Ibu Kota Jakarta tempat dimana semua asa-asa yang tertunda akan di dapatkan disini dengan catatan bila sudah menemukan nasib baik tentu. Titik Nur ditampung oleh keluarga ‘B Efendy’ yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, pagi hari Titik Nur menyempatkan sekolah di SMP Neg.46- Pasar Minggu  dan SMKK (setingkat SMA) – Slipi,  bila jelang malam hari Titiek Nur sudah berkeliling ‘Night Club’ mengisi acara sebagai penyanyi SOLO.  Satu persatu Night Club disebutnya antara lain: ‘Copa  Cabana, Tropicana, Blue Ocean, Blue Moon, Star Dust, LCC, COCO, Sky Room, dll, dari satu club malam ke club malam berikutnya sering dipertemukan sahabat-sahabat seni dimasa perjuangan seperti; ‘Eus Darliah, Annie Rae, dll. Bahkan Titiek Nur mencatat prestasi merekam suaranya lewat lagu ciptaan. ‘Gatot Sunyoto’ bersama Raja Jazz di jamannya  ‘Jack Lesmana’ bersama nama-nama besar lainnya ‘Yopie Item, Grace Simon, Rien Jamain’ dari perusahaan Celebrity.

Titiek Nur... Kemudian melebarkan sayapnya dengan meluncurkan album Pop Solo yang diidam-idamkannya bersama  ‘Agustus Group/pimp.B Efendy’, menerbitkan lagu ‘Curi-Curi/Cipt.D’lloyd dan beberapa album Pop lainnya.  Titiek Nur kemudian masih berpetualang sampai di kota Lampung dan tentunya menerima tawaran di Night Club di ‘Marcopolo’ sebagai karyawan bila pagi hari dan jelang malam hari sudah disulapnya menjadi seorang biduan dan menghabiskan masa kontrak selama 1 tahun, kemudian pulang ke Ibu Kota ‘Jakarta’ yang sudah menunggunya untuk kembali merebut  apa yang sudah ditinggalkannya.

Tahun 1975.... Kepulangannya ke Jakarta, TitieK  Nur sempatkan menonton Festival Group Band Wanita se Indonesia tahun 1975 di Senayan, dimana Group Band Wanita dari Surabaya ‘Fretty Sister’ keluar sebagai Pemenang pertama dan berturut-turut  juara ke II dan Favourite  ‘Aria Yunior & Antique Clique’.  Dari hasil menonton pagelaran group band wanita yang baru saja dia saksikan bersama sederatan bangku dengan ‘Camelia Malik & Idris Sardi’,
difikirannya sudah berkecamuk ‘sejuta’ ide yang tiba-tiba tak bisa memicingkan mata hingga fajar menguak dan di kepalanya ada sesuatu bisikan yang harus dia lakukan untuk perkembangan musik indonesia. Dimasa itu... siapa
yang tak mengenal dengan Group Musik Rock DangDut OM SONETA/Pimp.Oma (H.Rhoma) Irama,  tak banyak langkah  yang harus dia fikirkan dan  harus dia wujudkan keinginannya membentuk Group Musik DangDut Rock Wanita. Diutarakannya niatnya kepada sahabatnya ‘Reza Anggoman’ yang sudah di kenalnya saat semasa dan seperjuangan di kota Manado, Titiek Nur membuka percakapan ‘Riiiz...kita bentuk grup yok’, ‘grup apa...? disambung oleh Reza Anggoman, grup Melayu (DangDut) seperti Oma (Rhoma) Irama itu... Gila loh!!, siapa yang megang gendang.. kembali Reza Anggoman agak terkejut dan pesimis... Gua daaah, kata Titiek Nur sorongkan diri dan memberi keyakinan kepada Reza Anggoman untuk mari bahu membahu ujudkan keinginan kerasnya ini. KeEsokan hari mereka sudah terlihat berdua mensambangi ‘Ucok Suryodipuro  dari OM. BANGLADESH untuk mencari ‘Gendang’, keinginan kerasnya dari Titiek Nur inilah lambat laun terlihat berkat kekuatan hatinya dan tekad yang yang selalu dijunjungnya agar apa yang sudah diinginkan dapat tercapai.  Yang selalu dia ingat saat awali bersahabat dengan gendang, kemana-mana selalu dibawanya dan disetiap jedah di ‘tabuh’nya  untuk hasilkan ‘ketipak-ketipung’ yang bersuara ‘DUT’.  Problem yang dihadapi dari Titiek Nur adalah memiliki kekurangan di tangan ‘Kidal’, dimana menurutnya untuk hasilkan tabuhan ‘Dut’ itu harus menggunakan tangan ‘Kanan’ dan tidak begitu lama harus beradaptasi dengan segala bentuk kekurangan dirinya dan segala gendang sampai dihitungnya 6 biji yang  harus sekali dimainkan sehingga masing-masing memiliki suara lain terdengar ‘ketipung’ dan di variasikan dengan gendang bersuara ‘Ketipang’ sampai kepada suara-suara Gendang ‘Sunda’ hingga memunculkan ornamen2 indah dari perjuangannya hasil mengintip pemain gendang  di show ‘Jakarta Fair’, kenang titik Nur kepada penulis.

Tahun 1976... Lahirlah KENDEDES dengan semua anggotanya dari kaum ‘HAWA’, mereka antara lain: Titiek Nur/Pimp, Gendang, Vokal+ Reza Anggoman/Keyboard,Vokal+  Evy Martha/Bass, Vokal + Diah Setiawati/Bass, Vokal + Ken Zuraeda/Mandolin,Vokal + Tuty Wijaya/Rhytm,Vokal + Neneng Susanti/Tamborin, Fenty Nur (usianya 4 Tahun)/Marakas, Keyboard, kemudian ada masa pergantian pemain  dan masuk Herlina Effendy/Vokal, Budiah Putih/Tamborin + Luh Patrat/Mandolin, Senny Angelina/Melody, Chaerani/Suling, Ayuk Maria/Drum, dll.  Hebatnya dari Group musik DangDut Wanita ini adalah boleh dikatakan menerapkan semboyang ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang diartikan ‘Berbeda-beda tetapi tetap satu’, kenapa... karena para anggotanya berasal dari berbagai Daerah di Jagad Nusantara ini atau ‘beraneka ragam’ suku, dari mulai  ‘Madura, Manado, Aceh, Makassar, Padang, Timor, Sunda, Sangir Talaud, Nias, Medan’, dll.  Group inipun awali serangkaian show keliling kota ‘Surabaya, Semarang, Makassar, Medan’ dan hampir semua ‘Taman-taman Ria’ di kota-kota besar lainnya pernah disinggahinya,  masa itu lagu-lagu hits dari Bang Haji Rhoma Irama,  Elvy Sukaesih  Rita Sugiarto seperti: Begadang, Joged, Musik, Santai, dll yang dipersembahkannya dan yang sering menerima tepukan tangan sangat gemuruh adalah atraksi ‘Ketipak-Ketipung’ dari jemari sang pemimpinnya Titiek Nur sedang menabuh gendang yang sambil berdiri ataupun setengah berlari bahkan berjoget  tetap menghentakan suara Dang dan Dut’ bertalu-talu dari tabuhan gendangnya yang 6 biji itu.

Tahun 1977... OM Kendedes melempar album Rekaman sebagai pembuka di dunia recording,  Judul ‘CLEOPATRA/Cipt.Awab B, mendapat sambutan selamat datang dan menjadi  pendobrak group DangDut Wanita dimasanya dan lagi-lagi panggilan show di luar kota menjadi  agenda rutinitas dari OM Kendedes dan tentunya penggemarnya semakin menggila.  Seringnya berjumpa dikesempatan show sepanggung dengan penyanyi ‘Herlina Effendy’ yang saat itu belum Populer,  sejak namanya tercatat sebagai personel dari OM Kendedes  lambat laun dikenal dan memilih hengkang dari OM Kendedes karena persyaratan anggota dari group ini harus bisa memainkan  peralatan Musik dan bukan hanya mengandalkan di vokal saja.  Herlina Effendy sedikit keberatan dan merasa malas untuk belajar seperti anggota lainnya,  pilihannya ingin lebih bebas seperti sedia kala dan walaupun demikian Herlina Effendy sempat membawa nama OM Kendedes semakin Populer dengan rekaman ke 2 nya ‘Wajah Menggoda/Cipt.Ilin Sumantri dan album ke 3 ‘KeCe (Keren tapi Cekak)/Cipt. Titiek Nur dan album Syirik/Cipt.Titiek Nur.

Titiek Nur sebagai pemimpin, menerapkan  gaya ABRI disiplin militer kepada anggotanya untuk berlatih musik, tujuannya pasti untuk bekal di diri para anggotanya yang memang sudah menjadi kesepakatan bersama dan tanpa pandang bulu apakah ‘Anak’ (Fenti Nur) dan anggota lainnya. Latihan di mulai dari jam 6 pagi sudah harus berkumpul di kediaman Jati Asih, Tanah Abang atau di lapangan studio Flower sound, Titiek Nur selalu menggenggam ‘penggarisan’ dan sasarannya bila mendengar salah satu anggotanya tidak becus memainkan alat musik maka akan kena sabetan penggaris ditangannya atau bila ada anggotanya setengah-setengah memetik Gitar, Rhytm dan Bass dan alami proses luka ‘melepuh’ di tangannya atau bahasa jepangnya ‘melinting’ maka siap-siap saja Titiek Nur akan memencetnya sampai mengeluarkan ‘nanah dan  berdarah’.  Pengajarannya yang keras kepada anggotanya, Titiek Nur mendapat gelar sebagai Guru ‘Galak’ dari para anggotanya dan walaupun demikian Titiek Nur selalu meminta maaf setelah usai mengajar.

Diantara anggotanya yang nota bene dewasa, tersempil sosok anak kecil berusia 4 tahun bernama FENTY dan belakang hari disematkan NUR dibelakang nama Fenty menjadi ‘FENTY NUR’. Si bocah kecil berambut panjang ini sering ngerecokin para anggota OM Kendedes berlatih, ibunya Titiek Nur akhirnya mengarahkan untuk Fenty memegang Marakas atau Tamborin dan kemudian diarahkan untuk menguasai Keyboard. Si kecil Fenty sering sekali dilibatan show keliling di luar kota, bahkan tingkahnya menggemaskan saat Fenty menyanyi tiba-tiba dengan cueknya ‘pipis di celana’ saat ribuan mata menontonnya sedang berlenggak lenggok bernyanyi  lagu ‘Aduh-aduh Mana Tahan’. Tentu saja suguhan spontanitas dari Fenty ini membuat senyam-senyum yang menyaksikan Fenti kecil barusan sudah membasahi bumi persada.  Fenty kecilpun saat sudah naik peringkat  sudah piawai memainkan alat musik keyboard, terpaksa tubuh kecilnya sering di ganjal peti kayu untuk mencapai tust piano di setiap kehadirannya saat masih kecilnya.

Fenty Nur lahir di Jakarta, 9 September 1975 dari kedua orang tuanya Alm. ‘B Efendy / Manager & Titiek Nur/Pimpinan, sejak usia BaLiTa 4tahun sudah menjadi anggota yang paling muda di Kendedes.  Sepak terjan dan kepiawaiannya memainkan alat musik keyboard dan bernyanyi  mempermudah langkahnya  bersolo karir lewat abum anak-anak, seperti: Ratapan Anak Tiri, Merana, Kuda Gendong, Penjual Koran dan masuk ke album dewasa ‘Jeritan Isteri Pertama, Bagagai Makan diDaun,  Jantannya Pacarku, Sinar, Pertemuan, Bukan Menggoda  dan beberapa album Duet bersama ‘Irfan Mansyur dan Ray Hanafi’ begitu pula 23 album volume bersama Kendedes.

Berbicara soal suka duka menghadapi massa penonton yang beringas di Indonesia, alhamdulillah tidak pernah alami hal-hal yang menyimpan trauma kepada anggota OM Kendedes, walaupun ada perkelahian malah bukan dari kalangan penonton tapi justru dari aparat negara Polisi vs Tentara yang menewaskan 6 orang saat show di kendari- Sulawesi Tenggara.  Ada peristiwa yang diluar dugaan kami, ini semuanya sesuatu yang mustahil terjadi bila bukan campur tangan dengan sang kuasa... betapa mengerikan sekali bila ingat peristiwa dimana rombongan Bus yang membawa kami ke tujuan show di GOR  di Padang Sidempuan- Sumatera Utara pada tahun 1982, Bus Turis yang kami tumpangi ‘Terjungkal dan Terbalik’.  Penonton yang menunggu rombongan Kendedes  sempat membuat keributan dan bersikap anarkis  berteriak-teriak ‘PEMBOHONG..PEMBOHONG’  ada dengan cara melempari kaca dan pengrusakan sehingga membuat panitia kalang kabut, beruntungnya rombongan Kendedes tidak satupun mengalami luka parah dan hanya  beberapa yang lecet atau kena pecahan ‘beling’ dr kaca jendela bus. Rombongan langsung kelokasi GOR dan meredam kemarahan penonton yang sudah anarkis karena ketidak tahuan bahwa Kendedes terlambat karena alami kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa para personilnya karena ketidak hati-hatian sang sopir dalam berkendara. Kendedes dalam keadaan berdarah-darah hanya menggunakan kostum yang melekat dibadan dan sudah compang camping berlumur darah langsung beraksi seakan-akan tidak pernah terjadi, penonton yang anarkis semua terdiam dan penuh empati menyesali yang barusan terjadi. 

Adalah ‘DIAH SETIAWATI’  kelahiran 9 September 1959 salah satu pemain Bass dan Vokal dan sudah bergabung di Kendedes sejak tahun 1979 ini menuturkan peristiwa demi peristiwa ‘suka-duka’ selama show di dalam wilayah Indonesia maupun melawat di Negeri Tetangga Malaysia, Singapura, Brunai bahkan sampai ke Negeri Jepang sudah disinggahinya.   Diah Setiawati menceriterakan berawal bergabungnya di kelompok Kendedes berawal sebagai salah satu penggemar  yang sering menyaksikan kelompok Kendedes show disuatu tempat dan sosoknya ‘Diah Setiawati’ yang juga seorang penyanyi dan bergabung di Group Ken Arok hanya FreeLance,  selalu ada ditengah-tengah penonton menyambut uluran tangan dari Titiek Nur saat menawarkan untuk bergabung dan gayungpun bersambut sehingga tak berasa hingga hari ini (Selasa,12 April 2016) sudah terbilang usia 37 tahun lamanya.

Dia Setiawati kembali megisahkan peristiwa HOROR yang pernah sama alami anggota Kendedes saat menerima tawaran show di SEMPORNA  kota yang letaknya di Tawau pesisir Timur Sabah, konon menurut ceritera ‘tempat pembuangan orang-orang Filipina’ ungkap Diah Setiawati. Yang dia tidak bisa lupakan bahwa sebelum tampil semua anggota yang terdiri kaum hawa ini dibaluri minyak oleh tetua kampung  untuk menangkal segala bentuk ilmu Hitam atau kiriman MAGIC, segala colekan atau pegang-pengang tidak mempan menembus benteng penangkal ‘ilmu putih’ yang sudah di tanamkan di setiap anggota Kendedes lewat baluran Minyak, penonton yang kebanyakan pria mencoba cara lain dengan menjepretkan karet ke para anggota Kendedes yang sedang menghibur diatas panggung, keanehan terjadi  karet-karet tersebut bila menyentuh panggung atau tanah berubah ujud menjadi  binatang ‘Kaki Seribu’.  Akhirnya keadaan tidak terkendali karena para penggemar sudah melampau batas menyerbu ruang istirahat,  panitia sudah kehilangan akal dan mengambil jalan menghentikan acara dan menyelamatkan para anggota Kendedes kembali keHotel. Dan pengejaran mereka tidak sampai disitu saja, mereka tidak hanya puas menggoyang-goyang Bus ingin membalikkan bus dimana semua anggota Kendedes semua menjerit ketakutan padahal 3 truk kemanan tak mampu menangani keBringasan penduduk Semporna dan Kendedes baru selamat setelah dilarikan masuk keruang rahasia yang langsung menuju keluar dan kembali selamat tiba di Indonesia.

Nama kelompok ini semakin memberi makna kehadirannya di Ranah musik DangDut Indonesia, betapa tidak  selain album-albumnya digemari seperti: ‘ Gepeng (Gelandangan Pengemis),  Dag-Dig-Dug, Trompet Setan, Jakarta, Gagal Tiga Kali,  Generasi Tinggal Landas, RESESI, Titah Kehidupan, Perahu Retak, Penyesalan, Penyesalan II, Gara-gara Salome, Dimana Saja Aku Mau, Impian Perawan, Karena Putus Cinta/Cipt. Leo Waldy yang kemudian kembali hits dengan judul lain ‘Sebotol Minuman’, dll, Kendedes juga mencatat pemunculannya di peta Film Indonesia, judulnya: ‘Aduh-aduh Mana Tahan/Sutrd.Susilo SWD produksi tahun 1980 di mainkan  selain Kendedes juga diperkuat oleh penyanyi  DangDut & Aktris/ Aktor Senior TOP dimasanya : Diana Yusuf, Itje Trisnawati, Netty Herawati, Latief M, Darussalam, dll.  Kendedes hingga kini sudah hasilkan sekitar 30 volume  album  selama masa karirnya di tahun pertengahan 1970’an hingga tahun 1990’an, kehadirannya di Televisi satu-satunya hanya TVRI dalam program acara Aneka Ria Safari, Kamera Ria, Album Minggu Ini, dll juga memberi peluang untuk mendongkrak album-albumnya.  Lagu ‘ Problem Malam Minggu’ yang disuarakan sendiri oleh Titiek Nur memberi kesan tersendiri baginya dimana sejak lagu itu beredar di masyarakat,  maka namanyapun berubah menjadi ‘Titik Nur Oe Oe’ dan kemana-mana para penggemarnya memaikan nama embel-embel ‘Oe oe’ di belakang namanya.

B. Effendy  suami dari Titiek Nur sangat berperan penting dalam kubu Kendedes, dia bertanggung jawab mengurus atau menandatangani perjanjian kontrak dengan penyelenggara show On Air maupun Of Air. Titiek Nur juga memberi kepercayaan penuh dalam membagi setiap pendapatan honor anggota maupun crew Kendedes secara merata,  tanpa membedakan apakah dia seorang penyanyi, bermusik  atau hanya pemegang kabel setruman semua berhak sama rata mendapatkan honorarium karena memegang pedoman bahwa sama merasakan  capek. B Effendy yang seorang anggota ABRI terakhir berpangkat Kolonel akhirnya menanggalkan pekerjaan yang selama ini ditekuninya sambil menjalankan hoby bermusiknya, sejak sepak terjang Kendedes semakin padat akhirnya B Effendy serius tangani anak-anak Kendedes sebagai manager dan merangkap keseluruhannya yang dapat dihandle pekerjaan seorang pria.

Kebanggaan dari  para anggota Kendedes yang masih membekas adalah, bila mengadakan show di daerah sering diarak keliling kota berpawai mengitari sepanjang jalan perotokol atau jalan-jalan besar yang dilalui sebelum jeda pertunjukan.   Terbayangkan... group  ini dikawal dengan iring-iringan Motor Gede Brigader Motor (BM) atau di sebut ‘Voorjder’ melibatkan 4 sampai 6 sepeda motor berserine ‘nguing – nguing’ dan tak ketinggalan para anggota   group ini berada dibelakang iring-iringan MOGE  berkendaraan  mobil  ‘Jeep terbuka’ keliling  kota sambil melambai-lambai tangan ‘menebar senyum’ menyapa masyarakat yang sedang berjejer disepanjang jalan yang dilalui group ini hingga sampai di pertunjukan show.  Kesemuanya ini adalah kenangan indah bersama orang-orang tercinta yakni B Effendy yang telah di panggil oleh sang Khalik di Jakarta pada,  tanggal, 25 Mei 2006 menjadi  kenangan masa-masa dan suka-duka dalam kebersamaan bahu membahu memajukan group kaum Hawa ini kejenjang popularitas.

Tahun 2007.... adalah terakhir Kendedes  manggung  di tempat terbuka ‘Open Stage’ saat merayakan Ulang Tahun Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Titiek Nur mengatakan bahwa sampai hari ini Kendedes masih ADA dan masih EKSIS dan tidak pernah ada kalimat yang terUcap untuk membubakarkannya.  Para anggotanya masih sering berkumpul dan masih mengisi kegiatan di tempat-tempat hiburan atau di Luar Kota menghibur pencintanya, memang tak dipungkiri bahwa rutinitas agenda show tidak sepadat diera tahun tahun 1970 s/d 1980 an, panggung show dan dunia recording tak pernah sepi menghampiri mereka. Setidaknya mereka membuktikan bahwa  KENDEDES tak pernah mati dan sampai kapanpun, kami tak pernah berhenti bermusik karena kami sadari bahwa separuh jiwa kami ada  di musik DangDut walau tak dipungkiri bila di rumah kami-kami bertugas menimang ‘cucu’ dan bila diatas panggung berganti kami menimang ‘alat musik’ masing-masing, heheheheheh... ungkap Titiek Nur mengakhiri jumpa dengan penulis JCL.

SEKIAN.